Dukung kami di Media Sosial

Artikel

Liburan Sekaligus Belajar Bikin Gerabah di Desa Plumpungrejo, Blitar

Kamis, 18 Februari 2021 02:51

Blitar – Jawa Timur tak hanya terkenal dengan pantainya yang indah, tapi juga kerajinan tangannya yang memukau. Salah satunya adalah kerajinan tangan gerabah yang sudah jadi warisan turun temurun bagi sebagian warga Kabupaten Blitar.

Nah, bagi para traveler yang ingin mencari gerabah dengan beragam motif dan juga bentuk yang berbeda bisa langsung datang ke Desa Plumpungrejo, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Di sana, kamu akan disambut dengan beberapa perajin gerabah yang membuatnya dengan metode manual hingga modern.

detikTravel pun berkesempatan untuk mengunjungi Desa Plumpungrejo dalam rangkaian Jelajah UMKM BRI. Jalan memanjang dengan rumah-rumah khas Jawa akan menyambut kalian ketika masuk ke wilayah desa ini.

Penasaran dengan bagaimana kerajinan gerabah di desa ini, detikcom menyambangi salah satu pengusaha gerabah yang berada di Desa Plumpungrejo, Muhammad Burhanudin (34) namanya. Pria asli Blitar ini mengatakan gerabah merupakan kerajinan turun temurun yang diwariskan oleh nenek moyangnya sejak zaman majapahit.

“Kalau gerabah ini biasanya motif turun temurun biasanya naga dan bunga. Sebetulnya tidak ada makna khusus hanya permintaan pasar saja. Kalau di Blitar ikoniknya itu ikan koi,” ungkap Burhan kepada detikTravel beberapa waktu yang lalu.

Selain motif turun temurun tersebut, ada juga motif-motif lainnya yang dapat membelalakan mata seperti motif rajawali, ikan, arwana atau koi, tumbuhan bunga atau anggur. Ada juga beberapa gerabah yang motifnya berupa goresan atau ukiran sederhana maupun batik.

“Untuk pantangannya tidak membuat patung-patungan manusia seperti arca karena mayoritas di sini kan muslim. Motif yang paling laku berupa motif timbul. Motif ada tiga cara yaitu motif timbul, motif semi timbul berupa lukisan, motif gores,” imbuh Burhan.

Perajin Gerabah BlitarPerajin Gerabah Blitar Foto: Ari Saputra

Pada kesempatan tersebut, Burhan juga memaparkan beberapa langkah untuk membuat gerabah yang sudah melegenda tersebut. Bahan baku utama untuk pembuatan gerabah adalah tanah liat yang dicampur tanah kaolin atau clay dan pasir halus serta air.

“Perbandingannya sekitar 3:2:1, tanah liat 3, tanah kaolin 2, 1 pasir dan airnya sekitar 40% dari campurannya. Kemudian prosesnya digiling 3-4 kali sampai halus lalu bisa langsung dibuat bermacam-macam bentuk gerabah,” jelas Burhan.

Untuk 1 kali produksi, barang yang relatif kecil memakan waktu pengerjaan sekitar 5-10 menit. Kalau yang agak besar sekitar setengah atau 1 jam dan yang ukuran 1-2 meter bisa mencapai hitungan hari.